Legenda Biliar Efren Reyes Tur ke Jakarta: Inspirasi Besar untuk Generasi Muda Biliar Indonesia

Ketika nama Efren Reyes disebut‑sebut, yang muncul bukan sekadar pemain biliar hebat — melainkan sebuah fenomena. Pria asal Filipina yang lahir pada 26 Agustus 1954 dan telah mengukir lebih dari seratus gelar internasional ini kembali ke Jakarta dalam tur eksibisi yang tak sekadar hiburan, tetapi penuh pesan dan inspirasi untuk dunia biliar Indonesia.

Kedatangan dengan makna besar
Usai melalui karier panjang mulai era 1970‑an, Efren Reyes datang ke Indonesia pada akhir April hingga awal Mei 2025, memenuhi rangkaian pertandingan eksibisi bertajuk “The GOAT bersama Efren Reyes”. Acara ini digelar lewat kolaborasi antara rumah produksi Moor Production dan badan resmi olahraga biliar Indonesia, Pengurus Besar Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (PB POBSI).

Dalam kunjungannya, Reyes akan bermain di tiga lokasi utama di Jakarta: South Pool Plaza Festival Kuningan, Q Billiard Agora Mall Thamrin dan Q Billiard Senayan City.

Dia bukan hanya tampil sebagai penghibur, tetapi juga sebagai mentor dan simbol bahwa dunia biliar dapat menjadi arena prestasi dan perkembangan untuk Indonesia.

Mengapa kunjungan ini penting?
Reyes bukan sekadar pemain hebat — julukannya, “The Magician” atau “Bata” (anak kecil) menunjukkan betapa ia memukau dunia dengan kreativitas di meja biliar dan tetap digemari generasi muda.

Melalui kunjungan ini, ia membawa beberapa hal penting ke permukaan:

Observasi bahwa biliar Indonesia tengah berkembang pesat dan memiliki talenta muda yang layak diberi panggung. “Saya pikir setelah beberapa kali bermain di Indonesia, mereka telah membangun pemain muda menjadi lebih baik,” katanya.

Pesan bahwa pendidikan adalah fondasi penting sebelum meraih karier profesional. “Untuk pemain muda, agar menjadi profesional, mereka harus sekolah lebih dulu. Setelah itu, pergi ke pool untuk berlatih, untuk membuat improvisasi,” ujar Reyes dalam konferensi pers di Jakarta.

Pengakuan atas perubahan besar di dunia biliar secara global — dari zaman “uang tunai di meja” ke era turnamen profesional. “Perbedaan olahraga biliar zaman dulu itu banyak pertandingan uang, bukan turnamen,” ucapnya.

Aksi nyata dan interaksi langsung


Selama tur di Jakarta, Efren Reyes juga bersinggungan langsung dengan atlet dan figur publik Indonesia. Salah satu yang menarik perhatian adalah pertemuannya dengan atlet biliar nasional Silviana Lu. Di sela pertandingan eksibisi, Silviana mendapat wawasan langsung dari Reyes mengenai teknik dan taktik di meja biliar: “Banyak ilmu yang bisa diambil… tadi dia juga kayak beberapa kali ngasih tahu,” ujarnya dengan antusias.

Momennya bukan hanya tentang siapa menang atau kalah, tetapi lebih kepada “apa yang dipelajari” — bagaimana seorang legenda mengaktifkan imajinasi dan ambisi generasi baru di Indonesia. PB POBSI sendiri berharap kehadiran Reyes menjadi pemicu semangat bagi para pecinta biliar yang selama ini hanya menonton dari televisi, agar suatu saat mereka bisa “seperti idolanya mereka.”

Dari legenda untuk generasi
Jejak karier Efren Reyes adalah kisah yang pantas diteladani. Dari masa sebagai asisten di lapangan biliar saat sanggup berdiri di atas kotak Coca‑Cola untuk menjangkau meja, hingga menjadi juara dunia dalam dua disiplin berbeda, yakni sembilan bola dan delapan bola.

Kini berada di usia 70 tahun, Reyes tidak berhenti. Ia berkeliling, bermain, berbagi — menunjukkan bahwa kehebatan bukan sekadar dimiliki, tetapi dibagikan. Apalagi, Indonesia yang sedang meningkat eksposurnya dalam dunia biliar, mendapatkan momentum yang tepat melalui kunjungan ini.

Mengapa ini menjadi peluang untuk Indonesia?

Eksibisi ini membuka mata bahwa biliar bukan sekadar hobi, tetapi bisa menjadi jalan karier profesional bila didukung dengan pelatihan, pembinaan, dan mindset yang tepat.

Pesan Reyes tentang pendidikan menggarisbawahi bahwa jangka panjang prestasi idealnya dibarengi dengan pembentukan pribadi yang matang.

Interaksi langsung dengan sebuah ikon internasional menumbuhkan aspirasi nyata di tingkat akar rumput. Anak‑anak muda bisa melihat bukan hanya siapa dia, tetapi apa yang dilakukannya — dedication, improvisasi, dan semangat pantang menyerah.

Dengan Indonesia memiliki sarana yang semakin baik dan komunitas yang tumbuh, moment ini bisa jadi pemanas mesin regenerasi atlet biliar yang berdaya saing internasional.

Penutup: lebih dari sekadar acara
Bila Anda datang ke salah satu venue acara ini — atau bahkan hanya melihat liputan bahwa seorang legenda dunia hadir dan memberi inspirasi — hal itu bukan sekadar “pertunjukan”. Ini adalah dunia biliar yang berubah, dari ruang santai menjadi arena atletik, dari hiburan menjadi prestasi yang bisa dibanggakan. Efren Reyes datang ke Indonesia bukan sebagai tamu biasa. Ia membawa pesan: bahwa talenta Indonesia bukanlah hanya penggemar, tetapi bisa juga pencipta sejarah.

“Pendidikan dulu, latihan terus, improvisasi,” demikian pesannya. Kini giliran generasi muda Indonesia untuk merespon, meraih tongkat estafet, dan menorehkan bab baru bagi dunia biliar kita.